CURHAT
Assalamualikum wr. Wb. Kujelang matahari dengan senyuman, tetapi hati ini selalu meronta. “hari ini berganti lagi” bisikan itu terus ada setiap pagi menyambutku. Ada nasehat dari seseorang yang seakan jadi parasit ditelingaku. Orang itu berkata “kehidupanmu hari ini bukan dimulai saat kau membuka mata, tetapi saat kau memilih jalanmu beberapa tahun yang lalu”. Bila kita flash back kembali, ada betulnya juga bahwa saya berdiri disini karena perbuatanku atau prilakuku beberapa tahun lalu. Terus apa masalahnnya? Kadang penyesalan datang disaat semuanya terlewatkan. Menyesali kenapa kemarin tak berbuat yang maksimal. Apa perbuatanku sekarang sudah menjamin masa depanku kedepan? Seakan-akan kita berjalan demi tuntutan masa depan. Terus siapa yang dapat menjaminnya? Ada satu lagu yang menginsprasiku hingga saat ini, yaitu lagu dari bondan prakoso yang judulnya “Hidup berawal dari mimpi”, direefnya itu mengatakan , “tinggalkanlah gengsi, hidup berawal dari mimpi, gantungkan yang tinggi agar semua terjadi, rasakan semua penuhi tuk ironi tragedi, senang bahagia hingga kelak kau mati”. Inilah yang menjadi motivasiku . tapi, Kadang disaat semua ingin kulakukan, memulai sebuah pemikiran, ada sesuatu yang bergejolak. Tidak tau kenapa, ada sebuah perasaan enggan untuk memulainya. Mungkin mentalku masih belum siap, keinginanku adalah ingin menjalani hidupku mulai saat ini tanpa bergantung pada orang tua. Untuk menggapai mimpiku sendiri. Tapi nyatanya, sampai sekarang itu belum juga terwujud. Kadang aku juga terlena dengan keadaan yang diberikan orang tuaku, kadang aku lupa bahwa bukan ini yang kumau. Orang tua kita sering bilang “fokus aja kuliah”, tapi, siapa juga yang tidak kasihan ma orang tua yang terus aja bekerja untuk kita yang belum tentu menjamin. Yah.. gak tau bagi mereka yang sudah nyaman dengan semua darah dan keringat orang tua mereka. Kadang kita lupa bahwa waktu kita semakin sedikit, orang tua kita semakin tua. Walaupun keinginan mereka untuk membahagiakan kita setinggi langit, tapi tetap saja mereka tak bisa apa-apa bila usia telah berbicara. Itulah yang jadi bahan pikiran yang begitu berat, disatu sisi mereka mau saya focus kuliah, tapi disisi lain kujuga ingin menghasilkan uang. Okelah, mungkin ini terlalu naïf, tapi, sekarang saya baru sadar bahwa memang segalanya tak bisa dibeli dengan uang, tetapi segalanya butuh uang. Satu yang jadi catatan,kita sekarang bukan anak-anak lagi, kita dah bisa berjalan dengan pilihan kita. Dan kalau masalah kegagalan, sesungguhnya tak ada orang yang sukses tanpa kegagalan dan rintangan. Sekarang tinggal membuat semuanya dapat menerima itu.^^, Wassalamualaikum wr. Wb.
